Masa-masa kerajaan banyak dari masa tersebut berkembang berbagai cerita kehidupan dari dalam Istana ataupun dari luar kerajaan. Tapi yang biasanya sangat menarik dikalangan masyarakat justru cerita yang berbau gosip tentang kerajaan. Pada zaman tersebut rakyat sering membicarakan tentang “KISRAN” yaitu Kisah Seputar Kerajaan. Berbagai isu isu hangat dari politik, perselingkuhan, perseliran, perdana mentrian dan kekuatan-kekuatan oposisi berkembang menjadi buah bibir masyarakat Kerajaan TARJAYA (Mungkin pembaca masih ingat dengan Tarmucin?..Kerajaan TARJAYA berdiri setelah Tarmucin menikahi Putri dari Kerajaan Sriwijaya Nyai SerBlay-Sering di belay-).
Kerajaan Tarjaya dipimpin oleh Sang Raja Tarmucin yang saat ini berusia hampir 81 tahun, tetapi tetap senyum menghiasi bibir Sang Raja. Dia memiliki Permaisuri dan 34 selir kerajaan yang berasal dari desa di sekitar kerajaan seperti Leuwiliang, Pondok Kapur, Tonjong, Cibalanarik dan sebagainya. Tarmucin memiliki 3 orang anak laki-laki, yang paling tua dan putra mahkota adalah Suja’i usia 22 tahun, yang kedua adalah Sape’i usia 20 tahun dan yang terakhir adalah Shomad’i usia 18 tahun. Ketiga anak tersebut memiliki wajah yang menarik dan memiliki khas masing-masing. Tetapi KISRAN (Kisah Seputar Kerajaan) yang beredar adalah Shomad’i merupakan anak yang paling ganteng dan kuat seperti campuran Sapi Madura dengan Lombok.
Dan diantara mereka juga memiliki hobi yang beragam tapi satu hal yang merupakan kesamaan adalah mereka sangat menyukai Ilmu Bela diri Tangan Kosong keturunan Tarmucin yaitu Kepak Sayap Rajawali.
Suja’i dalam ilmu bela diri sangat kokoh dan kuat tetapi gerakannya sangat kaku, sedangkan Sape’i memiliki keluwesan bergerak bak Paula Abdul tetapi kurang dalam kekokohan. Sedangkan Shomad’i tidak terlihat sedikitpun seperti orang yang memiliki Ilmu, dia hanya seperti anak laki-laki lain yang terlihat biasa dan sedikit nakal menandakan kecerdasannya! Pernah Suja’i dan Sape’i latih tanding selama 5 hari dengan coffe break 7 kali dengan hasil yang imbang. Tetapi Shomad’i tidak pernah mau berlatih tanding dengan mereka, disebabkan sebenarnya Shomad’i selalu mengalahkan kakak-kakaknya. Dan karena itu Shomad’i tidak mau bertanding karena takut masuk dalam berita KISRAN (Kisah Seputar Kerajaan) dan menurunkan pamor kakak-kakaknya.
Pada hari 12 Djulhijah Shomad’i berbicara empat mata dengan Tukul dan Tarmucin. Untuk membicarakan keinginannya berkelana keluar tanah TARJAYA demi mencari pengalaman dan orang yang dapat mengalahkannya….hmmm kebiasaan dari para anak raja sedikit gegabah dan sombong. Tarmucin berbicara kepada Shomad’i seperti ini : “Mad’i, kamu memang memiliki ilmu yang tinggi dibanding dengan kakak-kakakmu…seluruh kembangan Jurus Kepak Sayap Rajawali sudah kamu kuasai dan kamu malah dapat membuat kembangan sendiri yaitu KETUTRABANG (Kepakan Buntut Rajawali sedang Terbang) yang sangat berbahaya. Kakekmu sendiri saja tidak pernah terpikir jurus tersebut (Kakeknya-Tarji’i..). Tetapi satu hal yang belum kamu kuasai sepenuhnya adalah dirimu! Jurus digunakan oleh orang yang memilikinya, tetapi diri/jiwa adalah pondasi dari orang yang akan menggunakan jurus apapun!” Tarmucin berkata sambil kedua matanya sedikit tertutup. Shomad’i langsung menimpali Bapaknya: “Pak, memang diri/jiwa yang berada didalam manusia yang akan membuat berbagai langkah dari manusia tersebut. Tetapi jurus dapat menguasai jiwa manusia tersebut, Mad’i rasa Bapak terbalik menilainya!” Shomad’i berkata dengan lirikan tajam ke Tarmucin. “Baiklah, terserah kamu! Tapi sebelum bapak ijinkan ada satu pertanyaan yang penting bapak lontarkan dan bapak harap kamu akan menjawab dengan jujur! Bagaimana?” Tanya Tarmucin kepada Shomad’i. Shomad’i mengkerutkan keningnya berpikir dengan keras pertanyaan apa yang akan dilontarkan bapaknya dan kemudian dia menjawab : “Silahkan Pak!”. Sambil menghela napas berulang kali Tarmucin mulai menyusun kata-kata agar pertanyaannya tidak bias didengar Shomad’i. “Apakah kamu merasa kecewa kepada Suja’i karena telah memacari pacarmu si Qoriatul? Seperti yang sering terdengar di KISRAN? Apakah kau kecewa terhadap Sape’i karena telah memacari pacarmu si Jumri’ah? Satu hal lagi apakah kau kecewa dengan Bapak karena pacarmu bapak jadikan selir si Tarminem (Anak dari Eminem)?” dan Tarmucin terdiam menunggu jawaban dari anaknya. Lama Shomad’i tidak menjawab dan tertunduk, kemudian terdengar suara Shomad’i yang berbeda dari tadi terdengar lebih parau dan berat seperti orang habis makan belum minum :”Hmmm…Pak yang sudah sudahlah…saya tidak kecewa! Tapi Pak, kenapa kakak dan Bapak selalu mengambil kesempatan disaat saya lengah sedetik? Dan akhirnya mereka semua berpaling? Tapi…ya sudah! Pak, saya tidak mau mendengar pertanyaan itu lagi. Tapi jawaban saya cuma TIDAK SAKIT HATI tetapi MAKAN HATI! Nah, puas-puas…dasar ndeso?” Sambil berjalan seringan bulu ayam Shomad’i keluar dan langsung pergi tanpa pamit lagi dengan semua penghuni Istana. Tarmucin terbelalak dan cuma bisa mengeluarkan kata : “Aghh..Shom..!!” Dan kata tersebut hilang dibawa angin pergi.
Saat usia Tarmucin 91 tahun akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya dan memberikan mandat kepada Suja’i sebagai pengganti dirinya sebagai Raja dari Kerajaan TARJAYA. Saat ini usia Suja’i adalah 32 tahun dan dia menjadi sesosok Raja yang gagah, dan Sape’i yang sekarang berusia 30 tahun menjadi Panglima Perang dari Kerajaan TARJAYA. Pada 15 Muharram dinobatkanlah Suja’i sebagai Baginda Raja, diantara keramaian terdapat utusan-utusan daerah tetapi kemana mata memandang tidak terlihat Shomad’i.
Baik kita tinggalkan dulu cerita didalam kerajaan, mari kita simak kisah Shomad’i yang berkelana selama 10 tahun. Setelah menghilang ditelan suara angin shomad’i berlari keluar istana dan area kerajaan tanpa arah, kemana angin kesitulah dia bergerak seperti kapal layar milik kerajaan Inggris Raya. Lama kelamaan dia berjalan memasuki satu daerah dimana masyarakatnya sangat sederhana dan ramah, daerah tersebut adalah daerah Pondok Cabe Hulu dan Ilir. Biar daerah ramah tetap saja yang namanya daerah selalu ada orang yang tidak mendapatkan pekerjaan yang halal. Dan mereka menjadi seorang centeng, centong atau apa saja yang sifatnya memeras.
Saat Shomad’i memasuki pintu palang yang megah terbuat dari kayu duren, seorang paruh baya menghampirinya dengan logat seperti orang mabuk : “Hey, kamu yang berlenggang…berhenti sebentar!” Shomad’i berhenti sambil melihat kearah orang tersebut. Shomad’i berkata : “Ada apa Pak?”, laki-laki tersebut berjuluk KUDARUNG (Kucing dalam karung) berkata : “hehe….ada apa? Yah, jelas donk ada apa-apanya! Kamu masuk ke rumah orang yah jelas donk harus ada omongan dengan yang punya rumah!” Kudarung berkata. Shomad’i menimpali : “Wah ternyata bapak ERTE sini?”….Kudarung terbelalak sambil menyeringai menampakkan susunan gigi RANGGINANG (Rangkaian Gigi Nangkring) sambil berkata : “ERTE…hahaha…ERTE! Kamu anak ingusan tidak tau aturan!” Sambil mengakhiri kata tersebut, berciutan angin kearah muka Shomad’i. Tanpa berkedip Shomad’i hanya menghembuskan napas dan apa yang terjadi? ternyata Kudarung tergeser dari posisi berdirinya sekitar 5 cm sampai 6 cm kebelakang terdorong oleh hembusan napas Shomad’i! terbelalaklah Kudarung dan berkata dalam hati : “Gila cing nih bocah! Gue ampe geser…..wah harus cepet cepet nih!” Setelah menyelesaikan pikiran tersebut dia langsung bergerak cepat dengan mengeluarkan berbagai jurus simpanannya yaitu “Kucing Persia digigit Kucing Kampung”, berciutan angin disekitar lokasi mereka dan Shomad’i sudah tidak dapat dilihat dengan kasat mata bergerak kesana-kesini menghindari pukulan pukulan Kudarung! Tapi tanpa membalas satu juruspun….bukan main ilmu “Rajawali menghindari Panah” milik keluarga Tarmucin!
Setelah itu Shomad’i membentak dengan diikuti suara yang seperti memukul isi dada : “CUKUUP!” tanpa tahu apa yang terjadi baju Kudarung berlobang dengan ukuran tangan orang dewasa didadanya dan gosong seperti cakaran Rajawali! Dan Kudarung terpental sampai dengan 1 meter dan berhenti tertahan oleh tembok pos satpam sambil mengeluarkan darah segar dari bibirnya.
Tidak lama berloncatan orang kesana kemari berjumlah 9 orang dengan di pimpin seorang tua seperti tengkorak….Dan berkata : “Cukup anak muda, dia adalah keluarga ku!”. Berhentilah Shomad’i bergerak dan menatap ke 9 orang dengan tatapan satu persatu. Shomad’i berkata : “Hmmm, baik…saya akan pergi melanjutkan perjalanan saya!”….”Hahaha, tunggu anak muda. Seorang melakukan sesuatu harus berani menghadapi resiko langkah yang diambilnya!” Kata si tengkorak yang berjuluk TENGBLANCA (Tengkorak Casablanca).
Tanpa banyak cakap bergeraklah mereka mengepung shomad’i dan terjadi pertempuran yang tidak seimbang! Ke 9 orang tersebut mengalami guncangan di dada, liver dan limpa mereka terkena pukulan Shomad’i dan akhirnya berlarian kesana kemari. Kemudian hilang ditelan bangunan-bangunan perumahan.
Shomad’i berpikir keras di otak sebelah kanannya bahwa dia harus berhati-hati memasuki daerah sini. Dan dia pun melangkah tenang tanpa arah menuju sebuah bukit yang sedikit gundul seperti habis di gagahi oleh para pemain Illegal Logging.
Pada saat menanjak di bukit ke 2, shomad’i melihat seorang laki-laki sedang bermain suling sambil duduk menghadap air terjun dan melantunkan lagu yang sangat menyenangkan hati dan perasaan. Shomad’i mendekatinya dan mendengarkan lagu tersebut, tetapi laki-laki tersebut tetap tenang dan meniupkan sulingnya. Setelah habis satu lagu laki-laki tersebut melihat ke Shomad’i, dan terkejutlah Shomad’i karena ternyata laki-laki itu sangatlah Ganteng dengan Paras muka seperti campuran Brad Pitt dan Bread Talk (Roti). Dengan mata yang bersinar seperti menusuk ke jantung dan paru-paru. Kemudian laki-laki tersebut menegur dengan sapa halus : “Ah..sahabat, ternyata engkau juga menyukai suara suling dan lagu?” tanya si laki-laki. Shomad’i menjawab :”Biasa saja, hanya heran koq ada orang yang memainkan suling di daerah sini!”. Laki-laki tersebut berdiri dan menghadapi Shomad’i, dan ternyata dia seorang laki-laki yang tinggi, gagah dan badannya seperti SUPERMAN. Dan dia berkata :”Terkadang orang perlu menyendiri dan bersantai…hmmm, kehidupan membuat kita terlampau serius dan sakit hati!” Sambil menggelengkan kepalanya dia melewati Shomad’i dan berjalan santai.
Shomad’i merasa di tinggalkan dan berkata :”Hey kawan, orang sedang berbicara kau berjalan saja meninggalkannya…itu tidak sopan!” Laki-laki tersebut menjawab :”Saya pikir sobat mau merenung di air terjun ini…oya, dan nama saya adalah PARMANCHO! Sobat boleh panggil Choco, ParCho, Mancho..bebas aja!” Parmancho sambil tersenyum. Kemudian sekejap mengedipkan mata Shomad’i melihat ke depan dan ternyata PARMANCHO telah hilang dari hadapannya tanpa meninggalkan suara sedikitpun. Terbelalaklah Shomad’i ternyata laki-laki tersebut adalah manusia sakti yang sangat sederhana.
PARMANCHO berjalan santai meninggalkan Shomad’i, dan menemukan kedai kopi kecil yang bermerek “Kopi Bin Karnoto Adi” kemudian dia mampir untuk menghirup secangkir kopi kecil khas Kopi Bin Karnoto Adi. Sambil menyeruput kopi, seluruh badan PARMANCHO tetap siaga satu dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Di saat itu pulalah datang dua orang yang berpakaian seperti FASILITATOR menghampiri kedai kopi tersebut. PARMANCHO merasakan suasana yang panas begitu mereka datang, sepertinya mereka habis melakukan sesuatu hal.
Setelah mereka duduk dan datanglah seorang pelayan sambil menyapa :”Selamat datang tuan-tuan di Kopi Bin Karnoto Adi! Ada yang bisa saya bantu?”, salah satu dari mereka menjawab halus :”Hmm…sediakan kami 2 cangkir kopi, tidak usah pakai gula karena kami bawa gula diet!”, sambil mencatat dan menganggukkan kepala pelayan langsung bergerak untuk menyiapkannya. Mereka bercakap-cakap :”Dul, kamu terlalu kejam menggunakan jurus Capit Udang terhadap orang tadi!” Berkata satu orang yang lebih tua. Dul menjawab :”Kakak, tugas kita adalah mengambil buku silat “Gasek-Tairus”-(Gadis Seksi dari Pantai Russia) dari orang tersebut! Sudah tentu dia yang memegang jelas handal memakai jurus tersebut..untung Raja sudah membekali kita dengan jurus Kepak Sayap Rajawali gubahan Panglima Sape’i” dan satu orang yang bernama Kodir menjawab :”Memang ganas jurus “Gasek-Tairus”, tetapi ternyata lebih ganas Kepak Sayap Rajawali Tak Pernah Kembali!”.
Saat itu berjalanlah tenang dari kejauhan Shomad’i menghampiri ke dua orang tersebut dan kemudian berucap dengan suara yang sedikit di tahan :”Hey kalian berdua, kenapa membunuh seseorang disana dengan pukulan yang sangat mengerikan?”. Si dul menjawab :”Hmmm, kamu siapa? berani bertanya kepada utusan raja TARJAYA?”. Shomad’i terdiam dan sekejap teringat tentang rumahnya..kemudian dia menjawab :”Memangnya segitu kejamkah utusan dari Kerajaan TARJAYA? Siapa yang mengirim kalian untuk membunuh orang tua tersebut?”. Kodir menghela dan menjawab :”Anak muda tidak perlu ikut campur! Pengen tau siapa yang mengirim kami…?” Sambil merogoh sesuatu dari bajunya dia berkata :”Panglima Besar Sape’i!” dan dia mengangkat plakat setinggi kepalanya.
“Hmm…tidak ku kira Sape’i menjadi besar kepala dan berbuat semena-mena!” Shomad;i berkata lirih. Kodir dan Dul berdiri sambil berteriak :”Hey, jangan kurang ajar kamu!” Kemudian dibarengi dengan papakan jurus Rajawali. Terkejutlah Shomad’i mereka lihai dengan Jurus Kepak Sayap Rajawali dan akhirnya Shomad’i bertempur dengan membalas berbagai jurus tersebut dan anehlah ketiga orang tersebut terbingung-bingung. Sejak dari tadi PARMANCHO terlihat duduk santai sambil menghirup kopinya dan tidak lupa melihat jalannya pertandingan.
“Tungguuuuuuuuuu….” Bentak Shomad’i yang menggetarkan seluruh isi kedai dan jantung para tamu disitu. Dan dia berkata:”Tidak tau kalian jurus apa yang kupakai? dan tidak kenal kalian dengan siapa berhadapan?” Kedua orang tersebut baru teringat dan bertanyalah Kodir:”Jurus Kepak Sayap Rajawali, siapakah lu bocah?” Shomad’i menjawab :” Aku Shomad’i adik dari Sape’i!”…Mereka berdua melihat tajam dan tertawa besar :”Hahahaha…Shomad’i sudah mati puluhan tahun yang lalu! Begitu menurut KISRAN (Kisah Seputar Kerajaan)!” Shomad’i terkejut setengah mati dan bertanya :”Hmm…baik, apa yang kalian ambil dari orang tersebut?” Dul berkata :” Buku Silat Gasek-Tairus! Untuk Panglima Besar!” Shomad’i menjawab :” Waduh..kalian bunuh Bpk. Sumirat penerus ilmu Gasek Tairus….wah…wah…sudah zalim!” Kemudian tanpa banyak cakap Shomad’i menggebrak dengan jurus andalannya KETUTRABANG, terkejutlah mereka dan kemudian mereka menggunakan andalan yaitu jurus Kepak Sayap Rajawali Tak Pernah Kembali.
Perkelahian semakin mengganas, angin di sekeliling berciutan, pohon-pohon ukuran 70 m up bergoyang kesana kemari, kedai kopi bergeseran mejanya dan baju orang-orang sampai tersingkap seperti Marilyn Monroe. Hanya satu orang yang tetap menghirup kopi tanpa terganggu dan mengawasi pertandingan dan berkata kecil :”Hmm..pria yang bernama Shomad’i tidak akan sanggup melayani mereka!” Setelah dia mengucapkan itu, kemudian terdengar dentuman keras dan tubuh Shomad’i bergelimpangan sembari memuntahkan darah segar seperti ayam siap saji sebelum dipotong, sedangkan kedua orang tersebut hanya mundur 31 langkah tergeser. Kodir berkata: “Hmm..anak muda, bukan main ilmumu tetapi ilmu kami lebih dasyat!” Si dul berkata kepada Kodir :”Kak, kita musnahkan aja dia yah!” Sebelum Kodir menjawab terdengar suara halus dan tenang : “Hmm..konflik bermulai dari pergesekan kecil di dalam hati, tetapi apabila pergesekan tersebut sudah berbentuk pembunuhan maka itu akan menjadikan Perang! hmm..sangat tidak baik tuan-tuan!” Berdirilah PARMANCHO di hadapan mereka. Kodir berkata : “Hey, anak muda..sudah kami bilang tidak usah mengganggu kami utusan Panglima Besar!” PARMANCHO tertunduk dan menjawab :”Yang kutakutkan adalah Yang Maha Esa dan para aulianya! Panglima hanya sebatas sebutan untuk orang dalam posisi mereka…hanya manusia yang masih dikendalikan hawa nafsu seperti ku!Hmm…maaf sebelumnya siapapun itu tetapi untuk pembunuhan tidaklah baik kawan!” Si Dul langsung menerjang dengan pukulan kepada PARMANCHO dan terbelalaklah Dul karena PARMANCHO terkena pukulannya tetapi justru Tenaganya tersedot kedalam dan membalik ke badannya sendiri dan terpental kebelakang.
Dul melirik Kodir dan mereka langsung menyerang dengan Jurus Kepak Sayap Rajawali Tak Pernah Kembali. PARMANCHO hanya menggerakkan kedua tangannya dan beradulah tangan mereka dan apa yang terjadi? Dul dan Kodir tidak bisa melepas tangan mereka dan tenaga mereka seperti tersedot ke dalam tangan PARMANCHO…itulah kesaktian jurus TANGAN KAPAS HISAP TAK LEPAS. Mereka berteriak teriak dan akhirnya PARMANCHO melepaskan tenaganya dan terpentallah mereka dengan mengeluarkan darah segar seperti ayam sehat sudah dipotong!
PARMANCHO menghampiri Shomad’i dan berkata : “Engkau sahabat tenanglah duduklah dengan tenang, atur pernapasanmu dan buangkan sedikit angin di perut mu agar hawa beracun yang ada keluar walau baunya nantinya akan sedikit menganggu lingkungan sekitar!” Kemudian Shomad’i mengangguk dan melakasanakan dan tidak lama terdengarlah suara Duuuuuuuuuttttttttttttttttt! Hawa beterbangan dimana-mana sampai-sampai PARMANCHO tidak bisa menahan dan agak sedikit termuntah, apalagi masyarakat di sekitar kedai sehingga kedaipun terpaksa segera mengganti bahan kopi yang terdapat disitu!
Kemudian PARMANCHO menghampiri Dul dan Kodir kemudian berkata :”Ini minumlah sedikit cairan Kloropil ini agar kembali sehat!” Minumlah mereka walapun menurut info Agus Kukus cairan Kloropil baginya tidak bermanfaat banyak. Tetapi bagi orang lain mungkin sangat bermanfaat. Dan ternyata benar, mereka langsung segar dan bertanya kepada PARMANCHO beli dimana, sehingga terjadilah proses Down Line dari MLM (Multi level Marketing). Sehingga mereka bisa mendapatkan cairan Kloropil tersebut.
Kemudian duduklah mereka berempat sambil memulihkan tenaga, dan PARMANCHO berbicara :”Kawan-kawan sudahilah perselisihan sampai disini…hasilnya jelas tidak baik bagi kita semua. Bagaimana?” Dul berkata :”Sahabat, masalah disini akan kami selesaikan sampai disini, tetapi bagaimana kami bertanggung jawab terhadap Panglima?” Shomad’i berkata :”Biar aku yang akan menyampaikan kepada dia!” Kodir memberikan sikap hormat kepada Shomad’i :”Putra Mahkota sudah lama tidak kembali, bagaimanakah tindakan Panglima dan Raja? Dan bagaimana dengan kami?” Shomad’i berkata : “Biar bagaimanapun aku tetap adik mereka, tenanglah aku akan coba untuk obrolkan dan mengembalikan buku Gasek-Tairus kepada yang berhak! Apalagi disampingku nanti ada saudara Choco (PARMANCHO)!” Parmancho menghela napas : “Sebenarnya aku tidak tertarik untuk hal seperti ini, apalagi pergi ke kota raja. Tetapi kalau memang karena kehadiranku dapat membantu menyelesaikannya yah apa mau di kate..! Ok….go deh..Bubarin!”
Setelah mereka bermalam di daerah tersebut, keesokan paginya saat burung hantu pulang ke rumahnya dan tidur lelap bergeraklah mereka menuju kerajaan TARJAYA dengan menggunakan Angkot S26 turun di Gaplek kemudian sambung lagi naik 106, tetapi ternyata ada kerusakan di angkot mereka sehingga mereka harus meneruskan dan menunggu PUSAKA jurusan Bogor. Apa boleh dikata, ternyata PUSAKA yang mereka naiki bukan menuju Bogor tetapi Ciputat. AKhirnya dari Ciputat mereka ambil angkot jurusan Pamulang. Sesampainya di sana waktu telah berjalan 3 hari 3 malam, sehingga mereka rehat di kedai kopi dengan merek “Bintang Jatuh” (STAR GEDEBUGS CAFE).
Sambil santai mereka berbincang seperti sahabat yang sudah lama mereka kenal, memang PARMANCHO sering membawa suasana persaudaraan sehingga mereka satu sama lain tidak canggung dalam berbicara dan bertindak. Bukan main PARMANCHO (dibaca PARMANTO). Sepanjang perjalananpun mereka sering mendengarkan tiupan suling PARMANCHO. Tanpa terasa hari berjalan hari dengan berganti angkot dan bis akhirnya tibalah mereka di depan pintu gerbang kerajaan TARJAYA.
Dul dan Kodir berkata kepada Shomad’i :”Putra Mahkota, sebaiknya kami serahkan buku silat “Gasek Tairus” kepadamu!” Sambil menyodorkan kepada Shomad’i dan Shomad’i berkata :”Baik…dan kalian akan menemui Panglima duluan?” Mereka mengangguk dan segera bergerak menuju kedalam kerajaan dengan perasaan yang ketakutan dan gentar. PARMANCHO menghela napas dan berkata :”Hmm….kasihan mereka, yah kita lihat aja bagaimana situasinya?” Shomad’i pun merasakan persetujuan dan keadaan yang sama seperti PARMANCHO. Dan Shomad’i berkata :”Sahabat, aku serahkan buku ini kepada kau..hanya engkau seoranglah yang dapat menjaganya dengan baik!” PARMANCHO mengangguk dan menyimpannya. Kemudian berjalanlah mereka memasuki ibukota dan terlihat sedikit air mata menggenang di pelupuk mata Shomad’i mengingat berbagai peristiwa di saat dia sebelum meninggalkan kerajaan.
Mereka sepakat untuk beristirahat dulu hari ini dan menanti kabar dari Dul dan Kodir apa yang mereka alami. Sambil beristirahat terlihat Shomad’i terkadang berjalan sendirian keliling ibukota dan PARMANCHO hanya beristirahat dan terkadang bertafakur sesekali.
Keesokan harinya setelah mereka mandi dan sarapan datanglah se-batalyon pasukan menjumpai mereka di pasar parung kios no. 11 sebab mereka sedang servis jam di kedai Sutan ESTE’ENKO (STNK) atau yang lebih dikenal Pendi Pak ERTE. Terkejutlah PARMANCHO dan Shomad’i, tetapi dengan ketenangan PARMANCHO dia langsung bertanya dengan senyum di bibirnya : “Halo para askar, apa yang bisa kami bantu?” Salah seorang askar yang berpangkat KOPRA menjawab : “Puffff, tidak usah berbasi-basi, ikut kami ke istana dan disanalah kalian akan disiksa!” Shomad’i tidak bisa menahan kesabarannya dan langsung menggebrak dengan jurus 1 KETUTRABANG yang berjuluk Buntut Kibar Buyarkan Danau. Para askar beterbangan kesana kemari seperti daun di musim gugur dan mereka memegang dada masing-masing dan melongo hanya dengan satu jurus mereka buyar. Pada saat itulah loncatlah dua pasang muda mudi ke hadapan Shomad’i. Mereka berkata :”Hey kamu, melawan perintah kerajaan dengan hanya mengandalkan ilmumu? Coba hadapi ini!” sambil berkata mereka langsung menggebrak berbarengan ke arah Shomad’i dan Shomad’i berkelat kelit kesana kemari sambil berpikir keras : “Bukan main ahlinya mereka memainkan Kepak Sayap Rajawali, siapakah mereka?”.
Seperti menghisap Marlboro keluaran Swiss bukan lokal waktu berjalan sangat cepat dan tiba-tiba terdengar dentuman yang menggelegar seperti Guntur anaknya Hasan Fasilitator Api Unggun. Dan terpelantinglah Shomad’i lagi-lagi mengeluarkan darah segar, sepasang muda mudi tersebut hanya berdiri tegar.
PARMANCHO menghampiri Shomad’i dan menaruh telapak tangannya ke punggung Shomad’i sambil berkata :”Wah, Mad..kamu keseringan ngeluarin darah terpaksa cari donor nih! Waduh..waduh…!” Dan PARMANCHO berteriak nyaring sekali sehingga kuping muda mudi dan para askar mengeluarkan darah sedikit. “HENTIKAN SEMUA PERTEMPURAN!!!!!!!!!!!” Terbelalaklah muda-mudi dan askar melihat tenaga dalam PARMANCHO! Dan mereka mundur 93 langkah ke belakang melihat PARMANCHO berdiri memapah Shomad’i dan berjalan ke arah mereka. PARMANCHO berkata: “Hmm….apa-apaan sedikit sedikit pukul, serang, gaplok…ini negara manusia atau monyet yang tidak pakai otak? Hayo, kalau berani serang saya!!! Hayo silahkan!”. Semua orang melihat dengan terdiam tidak bergerak dan kemudian sepasang muda-mudi yang bernama Puja dan Puji berkata :”Maafkan kami, silahkan kunjungi istana sekarang juga!” Kemudian mereka menghilang diikuti dengan para askar meninggalkan PARMANCHO dan Shomad’i.
Tak lama kemudian datanglah PARMANCHO seorang diri ke dalam istana dan dia disitu melihat 1 orang yang berpakaian seperti Raja, 1 orang Panglima Perang, 2 muda-mudi yang tadi dan kedua Dul dan Kodir yang terlihat lesu. PARMANCHO langsung salam dengan hormat dan berkata :”Apa kabar Raja dan para sahabat yang hadir disini! Nama saya PARMANCHO (Dibaca PARMANTO), anda semua boleh panggil Choco, Mancho, Parman..terserahlah yang enak saja. Ada apa hal yang bisa saya bantu?”. Sang Raja melihat dengan tegas dan berkata :”PARMANCHO, kami minta engkau kembalikan Buku GASEK TAIRUS kepada kami!”. PARMANCHO menjawab :”Raja, untuk apakah buku tersebut? Dan apakah ada hak kita di buku tersebut?”. Sang Raja menjawab :”Hmmm…jelas dooonk! Untuk memperkuat barisan ilmu dan askar kami!”. PARMANCHO berkata bijaksana : “Ilmu sangat berguna kita cari sebanyak mungkin, tetapi ilmu bila disalahgunakan merupakan hal yang berdosa hanya untuk menindas orang lain! Banyak cara untuk dapat menjadi BESAR tidak harus dengan kekerasan saja! Komunikasi, kebijakan yang benar, adil, bijaksana, banyak hal yang bisa kita lakukan..atau seperti pelatihan Sufi Thinking yang sering saya dengar di setiap pelosok daerah.” Terdiam sang Raja dan terdengar suara parau sang Panglima sambil menggebrak dengan jurus Rajawali Tidak Pernah Kembali ke arah PARMANCHO. Terkejut PARMANCHO dengan desingan tangan Sape’i, tetapi PARMANCHO seorang pemuda yang sangat mahir silat. Dengan gerakannya yang santai dia membalas segala serangan yang dikeluarkan Sape’i sampai telapak tangan Sape’i memerah seperti batu bata menemui tangan PARMANCHO yang seperti kapas tersebut.
Setiap orang yang melihat disitu, pasti akan membuka mulut, berdecak kagum melihat pertandingan yang super dasyhat! Tetapi seperti halnya dengan Marlboro Swiss, marlboro lokal juga sangat cepat habis bila terkena angin. Maka dengan waktu yang tidak lama..Sape’i terkena pukulan TANGAN KAPAS yang berjuluk KAPAS UNTUK ALKOHOL dan terpelantinglah dia dengan memuntahkan darah segar dua kali seperti Shomad’i. Tidak lama kedua muda mudi langsung memukul PARMANCHO dan beradulah telapak tangan mereka…hasilnya sama seperti yang dialami Dul dan Kodir, mereka terpelanting 4,5 meter persegi sambil memegang dada mereka dan mungkin mereka butuh Bi’ Mamo untuk mengembalikan LATRI-nya.
Dan gentarlah mereka semua sambil mengelus dada masing masing. Dan Raja bertanya :”Bukan main…bukan main….kami takluk kepadamu anak muda!” Raja menyalaminya dan memukul mukul pundaknya seperti HALO APA KABAR. PARMANCHO bersikap biasa dan berkata :”Ilmu yang tinggi bukan untuk menyiksa orang lain. Tapi yang paling sulit adalah mengontrol diri sendiri dengan ilmu yang tinggi. Banyak orang merasa ilmu sudah tinggi tetapi kontrol diri mereka tidak ada..itu bukan sakti tetapi sakit. Ada orang yang ilmunya merasa tidak ada apa-apanya tetapi kontrol dirinya tinggi…itu namanya SAKTI…tuan Raja! Menjadi orang yang baiklah kita bersama sama dan kita pergunakan untuk seluruh ummat manusia! Bagaimana Tuan raja, setujukah?”. Raja mengangguk dengan serius dan menghela napas :”Hmm..kau betul Choco! Kau betul, kami khilaf…maafkanlah kami semua!”. PARMANCHO berkata :”Sebelum kalian meminta maaf, saya sudah memaafkan dan tidak ada yang perlu berkecil hati. Satu hal lagi, adalah saya akan membawa seseorang dan bermaaf-maaflah kalian semua!” Sambil berkata tersebut PARMANCHO melihat ke belakang dan berjalanlah Shomad’i lunglai mendekat. Raja dan Panglima terkejut, sambil menitikkan air mata mereka berlarian menghampiri dan berpelukan layaknya seorang muslim.
Dan disaat itu hilanglah dari pandangan pendekar TANGAN KAPAS entah kemana menghilang. Dan hanya terdengar suaranya dari jauh :”Wahai SAHABAT SAHABAT, berkumpullah kalian dengan baik, jadilah masyarakat yang baik tanpa perselisihan, fitnah, jelek menjelekkan. Jadilah Manusia yang baik…karena amal yang dilihat selain HABLUMMINALLAH juga HABLUMMINANNAS. Jagalah keduanya agar terjadi keseimbangan untuk memasuki pintu Surga!”.
(Kisah diambil dari berbagai kejadian dan pikiran, jadi apabila ada hal gak nyambung…yah maap! Jaka Sembung naik Ojek, naik kuda sambil makan bawang-Gak nyambung Jek dan Dagh…Bawang!
)