Senioritas
Kembali pada hal ini kita berbicara tentang perilaku manusia yang sangat menarik dan tidak habis-habisnya dan mungkin perilaku ini ada pada diri kita? Manusia mengalami berbagai siklus sehingga menjadi karakter yang kuat sebagai manusia dan bagaimana mereka menjalani kehidupan dengan karakter tersebut.
Disaat mereka menjalaninya, dunia dan manusia ikut tumbuh dan berubah sesuai dengan zaman yang ada. Tetapi satu hal! Hidup harus mempunyai tujuan yang pasti! Khususnya tujuan ibadah karena kita diciptakan sebagai pengikutNYA. Manusia terkadang lupa bahwa mereka hidup dan berinteraksi dengan manusia lainnya, tidak akan pernah mereka dapat bertahan bila mereka hanya sendiri di dunia. Sopan santun, komunikasi, gerak gerik, ini adalah bagian-bagian kecil yang nantinya akan membuat hubungan antar manusia berjalan dengan baik.
Dalam hal tersebut kadang manusia mulai menilai dan merasa perlunya pengakuan oleh manusia lain. Yang sederhananya adalah dia minta didengar, dipatuhi dan diakui oleh manusia lainnya sehingga memperoleh apa yang dinamakan pengakuan dan penghormatan. Bila kita sering mendengar tentang kalimat Kekuasaan, tahta, pengakuan itu semua merupakan bagian dari makanan bagi sifat kita. Apakah makanan tersebut dapat berguna baik bagi karakter kita? Tergantung bagaimana kita dapat mengatasinya. Kadang pengakuan dan hal lainnya datang dari kondisi yang mengharuskan kita menerima hal tersebut. Lagi-lagi semua hal kembali ke kita, bagaimana kita menelaahnya dengan baik.
Tetapi kadang hal tersebut menumbuhkan ego di dalam hati kita yang tanpa kita sadar menjadi bumerang bagi kita sendiri. Ego akan membentuk karakter kita dan menjadi bagian dari perilaku kita sehari-hari. Hal yang baik akan membuat kita berperilaku jadi baik, tetapi hal yang buruk akan membuat kita berperilaku jadi tidak baik.
Pada semua sisi kehidupan juga sering timbul kalimat “SENIORITAS”! Apakah hal tersebut hal yang buruk? Menurut saya TIDAK..! Tetapi yang perlu diperhatikan sanggupkah kita menjaga ego kita terhadap pandangan orang tentang “KESENIORITASAN DIRI KITA?”, sebab dia bersemayam didalam hati kita. Seperti kebahagiaan didada kita bila ada orang yang sangat menghormati kita, patuh, takut, takluk dan sebagainya.Apabila kita tidak dapat menahannya kita akan menjadi karakter yang sombong dan tidak menghargai orang lain sebab tidak ada orang yang berani mengganggunya dikarebakan “SENIORITAS” tersebut. Dan kita kemudian menjadi zalim dan berbuat tidak baik terhadap orang lain.
Kembali lagi kita disadarkan bahwa mengetahui, mempelajari dan menghayati akhlak Rasullullah sangatlah berguna untuk kita dalam menghadapi hal-hal yang sangat berbahaya bagi kita. Permainan ini adalah permainan hati dan perasaan kita, dimana kita merasakan keuntungan dan kerugiannya di dunia. Pensucian hati sanubari tidak bisa berjalan dengan baik apabila tidak diikuti dengan perubahan karakter/perilaku kita di dunia.
Cobalah untuk menyadari dan menyadari dan menyadarinya…..ini merupakan bagian dari seleksi kita sebagai umat Rasul yang tidak ada apa-apa dan tidak memiliki apa-apa. Di atas langit masih ada langit, merunduk untuk memberi kebahagiaan kehidupan, lebih baik daripada harus tegak tanpa melihat sekeliling! Janganlah terpengaruh dengan SENIORITAS bila ternyata hal tersebut akan menambah ego kita yang sangat sulit untuk dikuasai nantinya! Apalagi hal yang berhubungan dengan ibadah…..ibadah untuk dilaksanakan bukan untuk didiskusikan tanpa pelaksanaan. Apabla kita masih hanya bisa mendiskusikan ibadah tanpa melaksanakannya dengan diikuti perilaku yang baik, maka Insya Allah saya katakan : “Ibadah anda tidak SEMPURNA!”.
November 14, 2006 pada 8:58 am
Hmm ! Tuhan pun tidak menilai senioritas…yang dikenal adalah ketaqwaan seseorang dihadapannya.
jadi yang paling senior adalah yang paling bertaqwa..di hadapan-Nya..gitu kali..betul nggak ?! lho kok ?