“Kepak Sayap Rajawali” – Tarmucin

Pada era masa Indonesia belum ditemukan, hukum yang berlakupun siapa kuat dia yang menang merupakan hukum yang berlaku di dunia. Masa lampau banyak kerajaan-kerajaan yang berdiri dan merupakan tonggak sejarah dari negara-negara yang sekarang banyak kita kenal. Seperti di indonesia terdapat beberapa kerajaan antara lain Sriwijaya, Majapahit dan sebagainya. Zaman kerajaan tersebut banyak terdapat orang-orang yang memiliki berbagai skill khususnya ahli silat, peramal, pengobatan dan banyak skill lain yang dimiliki oleh orang. Bahkan seorang penipu sekalipun merupakan skill yang harus diperhitungkan saat itu.

Pada saat itu seorang anak muda berjalan dengan santainya sambil memegang sebatang bambu yang terlihat bengkok-bengkok dan bambu tersebut dipergunakan sebagai alat untuk membabat alang-alang dihadapannya. Juga sebagai alat bela diri dari binatang buas lainnya di perjalanan. Anak muda tersebut bernama Tarmucin (Mungkin masih ada hubungan dengan Temucin atau Jenghis Khan? Allahualam bissawab..). Tarmucin memiliki paras yang lumayan cukup menarik, tingginya 178 cm dan berat 69 kg dengan potongan tubuh seorang gagah perkasa. Dan yang paling menarik adalah dia berjalan sembari dihiasi senyum di bibirnya.

Tarmucin sedang merantau kedaerah didekat Pulau Seribu atau yang kita kenal sekarang Jakarta, dia mencari pengalaman dan ingin menambah pengetahuannya tentang orang, kebudayaan atau apa saja yang bermanfaat untuknya. Di saat dia mendarat diwilayah tersebut dia dihadang oleh segerombolan orang tepatnya berjumlah 5 orang dengan bentuk tubuh yang sangar dan beringas. Salah satu dari mereka yang kemungkinan seorang juru bicara berkata kasar padanya : “Hey, kamu orang muda yang tidak tahu adat?” Tarmucin tersenyum dan berkata : “Apa kabar sobat? dan bagaimana bisa saya disebut tidak tahu adat?”. Si Tompul melihat dengan tajam kepadanya sambil mendenguskan nafas beratnya :”Hmmmhhh, ternyata kamu bisa berbicara dan mengerti bahasa kami!”, dilanjutkan dengan kata : “Kenapa saya bilang tidak tahu adat? Karena kamu tidak permisi dengan Kami “5 Gorilla Kelapa Sunda” untuk melewati daerah ini!”. Tarmucin berpikir keras di dalam kepalanya : “Wah, cocok sekali julukan itu untuk mereka? Apakah orang tua mereka yang membuatnya? Bukan main!!! Mereka sangat tahu akan jadi apa anak mereka sesudah dewasa.” Tarmucin berkata : “Maaf Bapak 5 gorilla, saya tidak tahu kalau lewat sini harus minta ijin dengan gorilla! Maafkan kelancangan saya…untuk itu saya minta ijin untuk melewati daerah ini Bapak sekalian!”. Satu diantara mereka yang bersuara parau berteriak : “Bang, tidak usah diperdulikan anak ingusan ini, mari kita geledah dan kita ambil barang berharga di dalam bajunya!”. Tarmucin tercengang mendengarnya : “Wah, barang berharga? Saya saja sedang mencari barang tersebut dan mudah-mudahan ada pada Bapak-bapak!” Tarmucin mengangkat bambunya dan melintangkannya di depan dada. Dan dengan sekejap mata 5 gorilla Kelapa Sunda menghunus senjata masing-masing dan mengambil posisi serang dengan jurus mereka yang ampuh yaitu “Keroyokan Gorilla untuk Sepotong Daging Empuk”. Tidak beberapa lama terjadilah adu senjata yang sangat menarik, ternyata sepotong bambu Tarmucin mengeluarkan suara berdentingan saat beradu dengan senjata-senjata 5 Gorilla dan dapat dilihat tangan para gorilla tergetar disaat beradu dengan senjata Tarmucin! Bukan main tenaga dalam anak tersebut!!

Disudut pohon beringin duduk seorang kakek renta sambil melirik kearah pertempuran dan kakek tersebut tidak habisnya berdecak kagum melihat kelihaian Tarmucin, sampai sampai kakek tersebut lupa kalau sedang ingin melahap indomie rasa soto sehingga mie tersebut menjadi besar apabila kelamaan untuk disantap! “Waduh, mie ku jadi gendut gara-gara melihat pertempuran yang jauh dari seimbang!!” dan akhirnya kakek tersebut melahap mienya.

Seisapan rokok Dji Sam Soe pertandingan berakhir dan “5 Gorilla Kelapa Sunda” terlihat seperti “5 Monyet Kecil dari Barito”, baju terkoyak sana sini, muka pucat kehitaman dan celana kedodoran terkena sabetan bambu. Sehingga mereka memasang kuda-kuda sambil memegang celana mereka masing-masing! Kesulitan yang sangat sulit disaat bertempur! Dan Tarmucin terlihat santai, tidak berkeringat sedikitpun bahkan yang paling sempurna adalah tidak bergerak dari posisinya awal sampai dengan sekarang.

Berkatalah Si Tompul dengan suara getar : “Ba..ba…baiklah kalau begitu, kami mengaku kalah dan minta maaf atas kelancangan kami! Tetapi bolehkah kami mengetahui nama orang yang telah membuat kami seperti in?” Tarmucin menggeleng kepalanya : “Sobat, tidak perlu gugup dan janganlah sungkan dengan saya…..Nama saya Tarmucin anak dari Tarji’i dan berasal dari seberang sana. Kesini hanya untuk mencari dan menambah pengalaman bukan mencari permusuhan!”. Begitu disebut Tarji’i, orang-orang disekitar itu termasuk si kakek gemetar dan menggigil tiada habisnya…..Tarji’i adalah seorang sakti yang terkenal hobi makan kerak telor dan dia memiliki ilmu yang tiada tandingnya, ilmu besutan yang di turunkan dari moyang Kel. “Tar” yang terkenal adalah “Rajawali Bengong Sendiri” dengan kembangan jurus yang sangat banyak.

Si Tompul bergegas menggunakan langkah seribu setelah itu diikuti dengan kawan-kawannya, larilah “5 Gorilla dari Kelapa Sunda” sama seperti julukan barunya “5 Monyet Kecil dari Barito”. Sesaat kemudian Tarmucin dengan tenang berjalan sambil memegang bambunya ke arah sang kakek yang sedang berpikir keras terlihat diwajahnya. Tarmucin menyapanya : “Hai Kek, makanlah mienya karena kalau tidak nanti tidak enak untuk dimakan!”, si kakek menyambut dengan gembira : “Ilmu yang dashyat anak muda…persis seperti orang tua mu!”. Tarmucin bertanya dengan pandangan menusuk : “Kenalkah kakek dengan orang tua ku?”, sambil mengambil sepotong daging si kakek berkata : “Jangan khan kenal, tetapi kami sudah pernah beradu tangan (Berkelahi) hanya untuk menguji siapa yang lebih kuat! Sebelum kau tanya namaku adalah Kamaregar (Kakek Marga Siregar!) dari pulau sebrang.” Begitu mendengar nama tersebut Tarmucin berubah air wajahnya menjadi pucat dan sedikit gentar. Di saat itu teringatlah Tarmucin dengan cerita bapaknya tentang seorang tua yang bernama Kamaregar, bahwa kakek tersebut dapat mengimbangi ilmu “Rajawali Bengong Sendiri” sampai 13.1432 jurus dan perkelahian tersebut memakan waktu sampai dengan 7 hari 7 malam seperti acara kawinan di curug! Dengan jurusnya yang dinamakan Jurus “GaSek-TaiRus” – Gadis Seksi di Pantai Russia.

“Seseorang ingin menambah pengetahuan bukan dengan perkelahian, tetapi dengan pengalaman kehidupan!” lanjut si kakek. Tarmucin berpikir : “Baik, ajaklah saya kek!”…si kakek menggelengkan kepala : “Tidak usah ikut saya, kau carilah sendiri apa itu kehidupan dan bagaimana kita harus dapat mengenal, mengatasi dan menjadikannya bentuk ilmu dalam hidup berakhlak di dunia!”….”Pergilah!” sambil berkata si kakek mendorongkan telapak tangannya untuk menyuruh pergi dan terdengar suara berciutan hingga badan Tarmucin terdorong sampai 3 km jauhnya!

Sesuai dengan perubahan dan perputaran dunia, waktu yang hanya 24 jam sehari sepertinya berputar sangat cepat. Pada saat Tarmucin bertemu dengan Kamaregar sampai dengan sekarang waktu telah berjalan 10 tahun 3,5 bulan tanpa terasa. Tarmucin terlihat lebih kurus, tetapi memiliki wajah yang bersinar merah dan senyum lepas yang dapat membuat orang yang melihat tenang dan bersahabat. Selama itu dia telah menerima berbagai peristiwa dunia yang akhirnya menempa pengalamannya tanpa harus menggunakan ilmu saktinya.Singkat cerita, dia pernah tertipu oleh seorang gadis yang menyita hatinya dan kemudian gadis tersebut meninggalkannya tanpa sehelai kata dan surat dikarenakan seseorang yang jauh lebih menarik, kaya dan sakti (menurut si gadis). Juga berbagai peristiwa yang akhirnya dia mengerti bagaimana berperilaku di dunia agar memberikannya keseimbangan kehidupan tidak lupa pula dia melihat korupsi, pencurian, penipuan dan berbagai kesedihan dan kesenangan yang selalu berdampingan.

Setibanya di Pulau Seribu, tepatnya Pulau Satu dia melihat seorang tua renta sedang memancing dan yang anehnya dipinggir pantai diatas air laut si kakek berdiri tenang tanpa ada alas ataupun injakan lain…hanya air laut tersebut! Bukan main ilmu meringankan tubuhnya! Tarmucin berjalan menghampirinya dengan tenang dan si kakek terkejut melihatnya dikarenakan Tarmucin berjalan seperti diatas aspal buatan Hutama Karya yang keras padahal dia berjalan diatas air laut yang sama! Dan hal yang ajaib lagi bahwa Tarmucin dapat melihat, menunggu dan menangkap seekor ikan Baronang tanpa alat pancing ataupun alat bantu lainnya.

Si Kakek berkata : “Hmmm….sudah lama kita tidak bertemu dan kamu tidak menelpon ke HP-ku! Sekarang kamu sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi…dari siapa kau mempelajarinya??” Pertanyaan si kakek dengan pandangan tetap melihat mata kail. Tarmucin menghela napas dan berkata : “Tidak belajar dengan siapa-siapa Beh! Hanya aku menyadari setinggi apapun ilmu yang paling penting adalah persetujuan dan ridho Yang Maha Kuasa. Kalau Yang Diatas setuju dan ridho apa saja yang mau kita lakukan akan baik! Itulah kurasa ilmu yang paling tinggi yang kutahu saat ini. Bagaimana kabar Babe?” Tarmucin melanjutkannya. “Baik saja…..” sambil si kakek sedikit terkejut dan gentar mendengar perkataan Tarmucin dan ternyata si kakek adalah Tarji’i orang tua dari Tarmucin. Singkat cerita berkumpullah keluarga tersebut dan waktu berjalan terus sampai saat ini sehingga mereka memperoleh kehidupan sederhana, bahagia dan banyak menolong orang dalam kehidupan.

Cerita ini dikarang berdasarkan konsep “Segala sesuatu yang akan dilakukan haruslah sesuai dengan Ridho dan niat kita semata-mata kepada Allah SWT!” Segala sesuatu apakah kita berhasil atau tidak dalam kehidupan kita ikhlaskan dan pasrahkan sesuai dengan petunjukNYA!

[Cerita fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama dan gaya harap maklum. Sebab sesama bis kota tidak pernah saling mendahului....]

9 Tanggapan ke ““Kepak Sayap Rajawali” – Tarmucin”

  1. Dahsyat dah kaya Kho Ping Hoo… Ditunggu kisah antara 10 tahun 3,5 bulan terutama bagian ditipu seorang gadis… Saya curiga ceweknya lari ama Selatem Al Kudusi “Bambu Pencabut Nyawa” seorang piauwsu (ekspedisi antar barang) bersenjatakan tombak bambu tumpul sama kayak Tarmucin cuman panjang 6 m diameter 6 cm yang menguasai daerah sukabumi sampai bantul dan malang melintang di dunia kang ouw dengan partnernya jago melempar senjata rahasia Solicin Gendut…

  2. meski mengular bak kereta matarmaja, cerita yg terkisahkan sangat menarik dari titik ke titik . mirip seperti naik matarmaja ke malang di musim hujan, meski lelet tapi tak terasa lambat apalagi membosankan. karena banyak pemandangan menarik hati terpampang dari balik jendela. juga aneka kejutan tak terduga pada tiap kelokan. tinggal bagaimana mengolah lalu menyantapnya menjadi asupan bergizi untuk menghikmati perjalanan diri.
    sempat tergoda untuk langsung menerabas ke akhir cerita, oleh sebab diburu oleh keinginan instan mau segera tahu. tapi syukurlah teringat pada kalimat tua; perjalanan bukanlah memburu tujuan, tapi menghikmati tiap lekuk batu yg tertapaki kaki.

  3. hmm…ceritanya cukup lincah meloncat kesana kemari menyambar-nyambar seperti ilmu “pedang gila” yang menjadi andalan pendekar “kepala puyeng” tapi tiap gerakannya penuh isi dan kekuatan.

    satuju dgn moral story-nya, Iklash > Ridho >just do it the best > don’t care refund > do and forgeted

  4. ampun pak pendekar…mau belajar jurus ajeb-ajeb dan jurus langkah seribu neh, buat persiapan perang tanding melawan musuh di negara tetangga, si lucky luke – tukang tembak monyet tercepat dari monyetnya.

  5. Ilmu2 dahsyat warisan keluarga udah punya,“Rajawali Bengong Sendiri” tapi masih gagal juga sampai ditinggal cewek pergi cuma bengong doang, seharusnya dia minta bekal dulu ilmu “GaCeSek Tairus” – Gaet cewek seksi di Pantai Russia, kembaran Jurus “GaSek-TaiRus” – Gadis Seksi di Pantai Russia dari Kamaregar

  6. What a story, Tarmucin. :)
    Tarmucin di Pulau Seribu vs. GaSekTairus, kok jauh ya :)

  7. Well Done ! inilah prinsip dasar untuk mencintai dan dicintai oleh Allah… Subhanallah…

  8. Ukuran sukses dan berhasil pun sesungguhnya berpulang kepada tujuan. Ada 2 orang yang sedang memancing, 1 orang pemancing adalah wanita dan ia memang memancing dengan tujuan agar dapat ikan, sedangkan pemancing yang lainnya adalah laki-laki yang sengaja memancing dengan maksud ingin berkenalan dan ngobrol panjang dengan wanita tersebut. Waktu berlalu lebih dari 1 jam tak satupun ikat mencaplok umpan dari keduanya. Apakah si wanita yang sukses atau si laki-laki yang sukses????, kembali ke tujuan awalnya masing2. Nah sebagai mu’min sejati pelajaran intinya adalah “Tidak lah aku ciptakan jin dan manusia kecuali mengabdi kepada-Ku” ===> ya kita ikuti petunjuk-Nya. Wallahu’alam

  9. Mantappp … at least kita mulai sadar untuk apa kita diciptakan , selambat / sepelan apa pun kita jalan itu tak masalah yang penting sudah tau kita mau kemana ..

Tinggalkan Balasan